Rahasia Karyawan Teladan? Istirahat Makan Siang

Kompas.com - 16/12/2010, 12:07 WIB

KOMPAS.com — Pekerjaan yang menggunung, seakan tak ada habisnya, dan takut tak bisa menyelesaikan tepat waktu membuat Anda pun menggunakan waktu istirahat untuk bekerja. Kalau perlu, makan di meja kantor saja supaya bisa lanjut bekerja. Harapannya, si bos bisa melihat betapa kerasnya Anda bekerja. Tetapi, jangan salah, hal ini bisa jadi bumerang untuk Anda. Alhasil, malah membuat Anda tidak mendapatkan posisi yang diincar. Padahal, seandainya Anda tahu, istirahat makan siang justru bisa menjadikan Anda karyawan yang lebih baik. Apa kaitannya?

Sebuah survei yang dilakukan oleh Right Management dan LinkedIn menunjukkan bahwa kurang dari setengah responden yang mengatakan bahwa mereka selalu menggunakan waktu istirahat siangnya jauh dari meja kerjanya. Sisanya? Sebanyak 20 persen makan di meja, 13 persennya bahkan mengatakan tidak pernah makan siang sama sekali. Alasannya? Supaya bisa kerja lebih cepat. Tetapi, para ahli memperingatkan, tren semacam ini justru berbahaya.

"Dari sisi produktivitas, ada kerugian saat Anda memaksa otak untuk bekerja keras terus-menerus selama 8 jam sehari. Ketika para karyawan melewatkan waktu makan siang setiap hari, mereka secara tidak sadar akan mengalami keletihan dan burnout. Keletihan ini menumpuk sedikit demi sedikit, hingga satu titik, mereka merasa sudah tidak lagi antusias untuk bekerja di tempatnya," jelas dr Janet Scarborough Civitelli, psikolog di Vocationvillage.com.

Sementara dari kacamata kebugaran dan stres, "Bagaimana cara kita menggunakan waktu istirahat, khususnya makan siang, memiliki dampak yang (sadar atau tidak) besar dalam cara kita menghadapi sisa hari. Ini berkaitan dengan cara menggunakan energi sebijak mungkin untuk membantu kita menikmati ritme hidup. Kita tahu bahwa pencernaan kita perlu waktu untuk bekerja dengan baik. Kita tahu tubuh kita butuh rehat sejenak di tengah-tengah situasi yang penuh tekanan untuk mengisi kembali dayanya dan kemampuan fokus kembali. Kita juga tahu, banyak orang di luar sana berjuang keras untuk bisa memiliki waktu istirahat, yang sering kali kita lewati itu," ungkap Beverly Beuermann-King, ahli kebugaran dari Little Britain, Kanada.

Diperkirakan, saat waktu makan siang, otak kita tak selalu memikirkan tentang pekerjaan meski kita masih berada dalam lingkup kantor. Hal ini akan memberikan waktu dan ruang untuk otak bernapas. Dengan demikian, ketika kita kembali bekerja, otak jadi lebih segar, ide-ide pun bisa lebih mengalir.

Untuk mereka yang jarang menggunakan waktu istirahat makan siangnya, Beverly Beuermann-King merekomendasikan aktivitas-aktivitas berikut ini:

* Berjalan kaki sejenak.
* Merasakan sedikit sinar matahari.
* Berbincang dengan teman.
* Tidur siang sebentar.
* Makan makanan utama atau camilan yang sehat.
* Melakukan sedikit peregangan.
* Melakukan permainan mental yang menantang.

Ide-ide lain:
* "Empat hari dalam seminggu, saya ikut kursus bahasa asing. Saya menjadi siswa lagi, dan saya sangat menyukainya." - Kristen Keener, direktur media relations di Goucher College, Baltimore, Md.

* Steve Weinstein, direktur public relations di Milwaukee, Wisconsin, membawa sepeda di bagian belakang mobilnya setiap hari. Di waktu istirahatnya, ia suka naik sepeda berkeliling lingkungan tempat kerjanya. Menurutnya, ini adalah pereda stres yang menyenangkan.

* "Saya mengunjungi tempat penitipan anak saya. Hanya menggendong dan menghabiskan sejenak waktu saya bersamanya membantu mengembalikan semangat." - Rebecca Tompkins, direktur komunikasi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau